Pengantar Filsafat Ilmu


BAB I
SUMBER FILSAFAT ILMU


1.      FILSAFAT
Filsafat dimulai oleh Thales  sebagai filsafat jagat raya yang selanjutnya berkembang ke arah kosmologi. Filsafat ini kemudian menjurus pada filsafat spekulatif pada Plato dan metafisika pada Aristoteles. Filsafat merupakan sarana untuk menetapkan kebenaran-kebenaran tentang Tuhan yang dapat dicapai oleh akal manusia itu.
Dalam abad-abad selanjutnya filsafat berkembang melalui dua jalur. Jalur yang pertama ilah filsafat alam (natural philosophy) yang mempelajari benda dan peristiwa alamiah. Yang kedua adalah yang menyangkut tujuan dan kewajiban manusia seperti etika, politik, dan psikologi disebut filsafat moral (moral philosophy) selama abad XVII-XVIII. Sebutan itu kemudian dirasakan terlampau sempit dan diperluas menjadi filsafat mental dan moral (mental and moral philosophy).
Setelah memasuki abad XX ini filsafat dalam garis besarnya dibedakan menjadi dua ragam, yakni filsafat kritis dan filsafat spekulatif. Filsafat kritis itu kemudian oleh sebagian filsuf disebut filsafat analitik (analytical philosophy). Filsafat analitik memusatkan perhatiannya pada analisis secara cermat terhadap makna berbagai pengertian yang diperbincangkan dalam filsafat seperti misalnya substansi, eksistensi, moral, realitas, sebab, nilai, kebenaran, kebaikan, keindahan, dan kemestian.
Menurut perumusan Alfred North Whitehead, filsafat spekulatif adalah usaha menyusun sebuah sistem ide-ide umum yang berpautan, logis, dan perlu yang dalam kerangka sistem itu setiap unsure dari pengalaman kita dapat ditafsirkan (speculative philosophy is the endevour to frame a coherent, logical, necessary system of general ideas in terms of  which every element of our experience can be interpreted).



2.      ILMU
Pada zaman Yunani Kuno episteme atau pengetahuan rasional mencakup filsafat maupun ilmu. Pada zaman Renaissance sejak abad XIV terjadi perkembangan baru. Tokoh-tokoh pembaharu dan pemikir seperti Galileo Galilei, Francis Bacon dan pada abad selanjutnya Rene Descartes dan Isaac Newton memperkenalkan metode matematik dan metode eksperimental untuk mempelajari alam. Dengan demikian, pengertian filsafat alam memperoleh arti khusus sebagai penelaahan yang sistematis terhadap alam melalui pemakaian metode-metode yang diperkenalkan oleh para pembaharu dari Zaman Renaissance dan awal abad XVII.
Perkembangan ilmu mencapai puncak kejayaan ditangan Newton. Cabang-cabang ilmu lainnya yang tercakup dalam pengertian ilmu modern juga berkembang pesat berkat penerapan metode empiris yang makin cermat, pemakaian alat keilmuan yang lebih lengkap, dan komunikasi antar ilmuwan yang senantiasa meningkat.
Dalam Zaman Modern timbul kebutuhan untuk memisahkan secara nyata kelompok ilmu-ilmu modern dari filsafat karena perbedaan ciri-cirinya yang sangat mencolok. Filsafat kebanyakan masih bercorak spekulatif, sedang ilmu-ilmu modern telah menerapkan metode-metode empiris, eksperimental, dan induktif.


3.      MATEMATIKA
Bidang pengetahuan ketiga setelah filsafat dan ilmu yang berkembang sejak zaman Yunani Kuno ialah matematika. Sejak permulaan hingga dewasa ini filsafat dan matematika terus menerus saling mempengaruhi. Filsafat dan matematika berkembang terus melalui pemikiran tokoh-tokoh yang sekaligus merupakan seorang filsuf dan juga ahli matematika seperti misalnya Descartes, Gottfried Wilhelm von Leibniz, Auguste Comte, Henry polncare, Whitehead dan Bertrand Russell.


4.      LOGIKA
Logika adalah bidang pengetahuan yang mempelajari segenap asa, aturan, dan tata cara penalaran yang betul (correct reasoning). Penalaran adalah proses pemikiran manusia yang berusaha tiba pada pernyataan lain yang telah diketahui. Pernyataan yang telah dikenal itu disebut pangkal pikir (premise), sedang pernyataan baru yang diturunkan disebut kesimpulan (conclussion).
Pada abad tengah wibawa Aristoteles diakui demikian tinggi sehingga pengetahuan logikanya dijadikan mata pelajaran wajib dalam pendidikan untuk warga bebas. Tetapi, mulai pertengahan kedua abad XIX dikembangkan logika modern oleh ahli-ahli matematika seperti George Boole, Auguste De Morgan, dan Gottob Frege.
Selain hubungannya yang erat dengan filsafat dan matematik, logika dewasa ini juga telah mengembangkan berbagai metode logis (logical methods) yang banyak sekali pemakaiannya dalam ilmu-ilmu.
Demikianlah, pertumbuhan empat jenis pengetahuan rasional yang telah dipaparkan secara singkat dimuka pada akhirnya dewasa ini bermuara pada suatu bidang pengetahuan yang rumit yang dinamakan filsafat ilmu.



















BAB II
PENGERTIAN FILSAFAT SEPANJANG ZAMAN

1.      Pengertian Semula
Kata philosophy (filsafat;inggris) berasal dari kata Yunani “Philosophia” yang berarti cinta kearifan. Akar katanya ialah philos (philia, cinta) dan shopia (kearifan). Dahulu Sophia tidak hanya berarti kearifan saja, melainkan meliputi pula kebenaran pertama, pengetahuan luas, kebajikan intelektual, pertimbangan sehat sampai kepandaian pengrajin dan bahkan kecerdikan dalam memutuskan soal-soal praktis.
2.      Filsafat Pythagoras (572-497 S.M.)
Menurut tradisi filsafati dari zaman Yunani Kuno, orang yang pertama-tama memperkenalkan istilah philosophia ialah Pythagoras. Pythagoras mendirikan aliran filsafat pythagoreanisme yang mengemukakan sebuah ajaran metafisis bahwa bilangan merupakan intisari dari semua benda maupun dasar pokok dari sifat-sifat benda. Filsafat Pythagoras dan mazhab pythagoreanisme dipadatkan menjadi sebuah dalil yang berbunyi “ Bilangan memerintah jagat raya “ (Number rules the universe).
3.      Aliran Filsafat Alam Semesta
Bapak filsafat ialah Thales (640-546 S.M.). Ia merupakan seorang filsuf yang mendirikan aliran filsafat alam semesta atau kosmos dalam perkataan Yunani. Menurut aliran filsafat kosmos itu filsafat adalah suatu penelaahan terhadap alam semesta untuk mengetahui asal mulanya unsur-unsur dan kaidah-kaidahnya.
4.      Pendapat Socrates (469-399 S.M.)
Dalam pemahaman Socrates filsafat adalah suatu peninjauan diri yang bersifat reflektif atau perenungan terhadap asas-asas dari kehidupan yang adil dan bahagia ( principle of the just and happy life ).
5.      Pendapat Plato (427-347 S.M.)
Dalam konsepsi Plato filsafat merupakan pencarian yang bersifat spekulatif atau perekaan terhadap pandangan tentang seluruh kebenaran. Filsafat Plato itu kemudian digolongkan sebagai filsafat spekulatif.


6.      Pendapat Aristoteles (384-322 S.M.)
Ia memberikan dua macam definisi terhadap prote philosophia itu, yakni sebagai ilmu tentang asas-asas pertama (the science of first principles) dan sebagai suatu ilmu yang menyelidiki peradaan sebagai peradaan dan ciri-ciri yang tergolong pada objek itu berdasarkan sifat alaminya sendiri. Dalam perkembangannya kemudian prote philosophia dari Aristoteles disebut metafisika. Ini merupakan suatu istilah tehnis untuk pengertian filsafat spekulatif.
7.      Aliran Filsafat Stoicisme
Bagi para filsuf Stoic, filsafat adalah suatu pencarian terhadap asas-asas rasional yang mempertalikan alam semesta dan kehidupan manusia dalam suatu kebulatan tunggal yang logis.
8.      Pendapat Marcus Tullius Cicero (106-43 S.M.)
Ia menyebutkan filsafat sebagai ibu dari semua pengetahuan dan menulis buku De Natura Deorum. Definisinya yang sangat singkat tentang filsafat ialah ars vitae (the art of life) yang dapat diartikan pengetahuan kehidupan.
9.      Konsepsi Abad Tengah
Dalam abad tengah di Eropa, filsafat dianggap sebagai pelayan dari teologi, yakni sebagai suatu sarana untuk menetapkan kebenaran-kebanaran mengenai Tuhan yang dapat dicapai oleh akal manusia. Tokoh filsuf yang terkenal ialah Thomas Aquinas (1225-1274), menurutnya kebenaran teologis yang diterima oleh kepercayaan melalui wahyu tidak dapat ditentang  oleh suatu kebenaran filsafati yang dicapai dengan akal manusia, karena kedua macam kebenaran itu mempunyai suatu sumber yang sama pada Tuhan.
10.  Pendapat Francis Bacon
Mengemukakan metode induksi yang berdasarkan pengamatan dan percobaan untuk menemukan kebenaran dalam berbagai bidang pengetahuan. Ia menyebut filsafat sebagai ibu agung dari ilmu-ilmu (the great mother of the sciences).
11.  Definisi Christian von Wolff (1679-1754)
Merumuskan filsafat sebagai ilmu tentang hal yang mungkin sejauh dapat ada (the science of the possible in so faras they can be) preliminary discourse on philosophy in general.
12.  Definisi Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831)
Ia mendefinisikan filsafat sebagai ‘die denkende Betrachtung der Gegenstande’, the investigation of things by thought and contemplation (penyelidikan hal-hal dengan pemikiran dan perenungan).
13.  Pendapat Herbert Spencer (1820-1903)
First principles, filsafat sebagai pengetahuan dari generalitas yang tertinggi derajatnya.
14.  Pendapat Henry Sidgwick (1839-1900)
Filsafat sebagai scienta scientiarum (ilmu tentang ilmu), karena filsafat memeriksa pengertian-pengertian khusus, asas-asas pokok, metode khas, dan kesimpulan-kesimpulan utama dari sesuatu ilmu apapun dengan maksud untuk mengkoordinasikan semuanya dengan hal-hal yang serupa dari ilmu-ilmu lainnya.
15.  Pendapat Bertrand Russell (1872-1970)
Menganggap filsafat sebagai suatu kritik terhadap pengetahuan, karena filsafat memeriksa scara kritis asas-asas yang dipakai dalam ilmu dan dalam kehidupan sehari-hari, dan mencari suatu ketakselarasan yang dapat terkandung dalam asas-asas itu.
16.  Pendapat Wilhelm Windelband (1848-1915)
Filsafat adalah pengujian terhadap praanggapan-praanggapan seseorang, karena intisari sesungguhnya dari filsafat ialah memeriksa secara mendalam praanggapan-praanggapan pokok dalam ilmu-ilmu khusus dan kehidupan sehari-hari.
17.  Pendapat J.A. Leighton
Filsafat mencari suatu kebulatan dan keselarasan pemahaman yang beralasan tentang sifat alami dan makna dari semua segi pokok kenyataan.
18.  Pendapat Unamuno Y Jugo (1864-1936)
Filsafat pada dasarnya adalah ilmu bahasa merupakan sesuatu yang memberikan kenyataan kepada manusia dan bukannya sekedar alat perantara dari kenyataan. Suatu bahasa adalah suatu potensi filsafat.
19.  Pendapat John Dewey (1858-1952)
Filsafat sebagai suatu sarana untuk melakukan penyesuaian-penyesuaian antara hal-hal yang lama dengan hal-hal yang baru dalam suatu kebudayaan. Dewey lebih suka menyebut aliran filsafatnya instrumentalisme yang dasarnya ialah pengalaman.
20.  Definisi Alfred North Whitehead (1861-1947)
Dalam “critical and speculative philosophy” (1924) membedakan dua ragam filsafat dewasa ini, yaitu filsafat kritis yang terutama menganalisis konsep-konsep dan filsafat spekulatif yang pokoknya merenungkan suatu pandangan menyeluruh tentang kenyataan (karya Charles Dunbar Broad).
Sedang menurut Alfred North Whitehead dalam proses and Reality (1929) mendefinisikan filsafat spekulatif sebagai usaha menyusun sebuah system ide-ide umum yang berpautan, logis, dan perlu yang dalam kerangka system itu setiap unsure dari pengalaman kita dapat tafsirkan. Ia juga merumuskan filsafat sebagai suatu sikap budi rohani terhadap ajaran-ajaran yang diterima begitu saja oleh setiap orang tanpa memahami maknanya yang sesungguhnya.
21.  Raymond F. Piper dan Paul W. Word
Definisi filsafat sebagai suatu penafsiran yang kritis dan tuntas mengenai hal-hal yang nyata dan ideal serta mengenai nasib manusia sebagaimana terlibat didalamnya.
22.  Tokoh pendiri Aliran Filsafat Empirisme Logis Moritz Schlick (1882-1936)
Filsafat harus didefinisikan sebagai kegiatan mencari arti (the activity of finding meaning), karena filsafat merupakan suatu aktivitas mental yang menjelaskan gagasan-gagasan dengan melakukan analisis untuk menemukan arti dari semua persoalan dan pemecahannya.
23.  Filsuf Penganut Aliran Filsafat Idealisme Objektif William Ernest Hocking (1873-1966)
Dalam “what philosophy is and says” menyatakan bahwa pertama-tama adalah pemeriksaan terhadap keyakinan-keyakinan yang dengan itu seseorang hidup.
24.  John Macmurray
Filsafat sebagai suatu usaha untuk memahami perbedaan antara hal yang nyata denagn yang tak nyata, atau dengan perkataan lain untuk memahami kenyataan.
25.  Federigo Enriques
Filsafat sebagai suatu kecenderungan dari budi rohani manusia kearah kesatuan dan keumuman dalam bidang pengetahuan dan bidang tujuan (a tendency of the human mind toward unity and generality in the realm of knowledge and of purposes).
26.  Pendukung Aliran Filsafat Realistik John Wild
Filsafat sebagai usaha untuk memahami fakta-fakta paling pokok tentang dunia yang kita diami dan sejauh mungkin menerangkan fakta-fakta itu.
27.  Lewis White Beck
Filsafat telah didefinisikan sebagai suatu usaha yang gigih untuk memikirkan hal-hal sampai tuntas.
28.  Sejarahwan Filsafat W.T. Jones
Filsafat sebagai pencarian abadi terhadap kebenaran, suatu pencarian yang tak terhindarkan gagal namun tak pernah terkalahkan; yang terus menerus menghindari kita namun senantiasa membimbing kita.
29.  Tokoh Aliran Filsafat Bahasa Sehari-hari George Edward Moore (1873-1958)
Menganggap filsafat adalah suatu pelukisan umum tentang keseluruhan alam semesta.
30.  Penganut Filsafat Thomisme Jacques Maritain (1883-1973)
Filsafat adalah ilmu yang dengan cahaya alamiah dari akal menelaah sebab-sebab pertama atau asas-asas tertinggi dari semua hal, dengan kata lain, ilmu mengenai hal-hal dalam sebab-sebabnya yang pertama sejauh hal itu tergolong pada tertib alam.
31.  Ernest Nagel
Filsafat sebagai suatu ulasan kritis terhadap keberadaan dan terhadap tuntutan-tuntutan kita memiliki pengetahuan tentang hal itu.
32.  Stuart Hampshire
Filsafat sebagai suatu penyelidikan bebas terhadap batas-batas pengetahuan manusia dan terhadap penggolongan-penggolongan paling umum yang dapat diterapkan pada pengalaman dan kenyataan.
33.  James L. Jarrett
Filsafat adalah terutama kegiatan yang bersifat menjelaskan tentang berbagai arti perkataan-perkataan, konsep-konsep, kategori-kategori dan cita-cita.
34.  Peter Winch
Filsafat sebagai suatu penyelidikan terhadap sifat alami dari penegtahuan manusia tentang kenyataan dan terhadap perbedaan yang dibuat oleh kemungkinan pengetahuan seperti itu pada kehidupan manusia.
35.  Jose Ferrater Mora
Filsafat sebagi suatu sudut pandangan terhadap semua sasaran yang mungkin sejauh itu merupakan sasaran-sasaran dari penyelidikan ilmiah, dari kepercayaan agama, dari kegiatan seni, dari pengalaman bersama, dan seterusnya. Sudut pandang itu ialah penyatuan, yakni penyatuan segala hal secara kritis.
36.  Theodore Brameld
Filsafat sebagai usaha yang gigih dari orang-orang biasa maupun orang-orang cerdik pandai untuk membuat kehidupan sedapat mungkin dapat dipahami dan bermakna.
37.  Edgar Sheffield Brightman
Filsafat sebagai pemikiran yang tertuju pada kekonkretan yang sebesar-besarnya atau pemikiran yang berusaha menemukan kebenaran yang saling bertalian mengenai segenap pengalaman yang ada.
38.  William P. Alston
Filsafat sebagai analisis kritis mengenai konsep-konsep dasar yang dengan perantaraan itu orang berpikir tentang dunia dan kehidupan manusia.
39.  Hunter Mead
Filsafat sebagai kegiatan yang dengannya orang-orang berusaha memahami sifat alami dari alam semesta, sifat alami dari mereka sendiri, dan hubungan-hubungan antara dua bagian yang paling pokok dari pengalaman kita itu.
40.  Robert Paul Wolff
Filsafat sebagai perenungan sistematis dari budi rohani terhadap ukuran-ukuran pemikiran yang benar dan tindakan yang benar yang dipergunakan dalam semua kegiatannya.
41.  Gerald Runkle
Filsafat sebagai sebuah kegiatan adalah pencarian terhadap pamahaman. Sasaran pemahaman itu ialah sesuatu segi apapun dari alam semesta karena filasafat mencari pengetahuan tanpa pembatasan.
42.  Harold H. Titus
Filsafat sebagai suatu proses perenungan dan pengkritikan terhadap keyakinan-keyakinan kita yang dianut paling dalam.







BAB III
DEFINISI FILSAFAT ILMU DEWASA INI

   Berbagai definisi filsafat ilmu (philosophy of science) dari para filsuf dapat dikutipkan sebagai berikut:
a.      Robert Ackermann
Filsafat ilmu dalam suatu segi adalah sebuah tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini dengan perbandingan terhadap pendapat-pendapat lampau yang telah dibuktikan atau dalam kerangka ukuran-ukuran yang dikembangkan dari pendapat-pendapat demikian itu, tetapi filsafat ilmu demikian jelas bukan suatu cabang ilmu yang bebas dari praktek ilmiah senyatanya.
b.      Lewis White Beck
Filsafat ilmu mempertanyakan dan menilai metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menetapkan nilai dan pentingnya usaha ilmiah sebagai suatu keseluruhan.
c.       A. Cornelius Benjamin
Cabang pengetahuan filsafati yang merupakan telaah sistematis mengenai sifat dasar ilmu, khususnya metode-metodenya, konsep-konsepnya dan praanggapan-praanggapannya, serta letaknya dalam kerangka umum dari cabang-cabang pengetahuan intelektualnya.
d.      Michael V. Berry
Penelaahan tentang logika intern dari teori-teori ilmiah, dan hubungan-hubungan antara percobaan dan teori, yakni tentang metode ilmiah.
e.       May Brodbeck
Filsafat ilmu sebagai analisis yang netral secara etis dan filsafati, pelukisan, dan penjelasan mengenai landasan-landasan ilmu.
f.       Peter Caws
Filsafat ilmu merupakan suatu bagian filsafat, yang mencoba berbuat bagi ilmu apa yang filsafat seumurnya melakukan pada seluruh pengalaman manusia.
g.      Alfred Cyril Ewing
Filsafat ilmu biasanya diterapkan pada cabang logika yang membahas dalam suatu cara yang dikhususkan metode-metode dari ilmu-ilmu yang berlainan.
h.      Antony Flew
Ilmu empiris yang teratur menyajikan hasil yang paling mengesankan dari rasionalitas manusia dan merupakan salah satu dari calon yang diakui terbaik untuk pengetahuan.
i.        A.R. Lacey
Study tentang bagaimana ilmu bekrja atau seharusnya bekerja. Studi ini melakukan suatu petunjuk yang layak tentang bagaimana ini seharusnya. Studi ini sering disebut metodologi, suatu istilah yang dapat juga bersifat relative, misalnya metodologi sejarah.
j.        John Macmurray
Filsafat ilmu sebagai penilaian filsuf tentang ilmu itu sendiri, dengan pemeriksaan kritis terhadap pandangan-pandangan umum, prasangka-prasangka alamiah yang terkandung dalam asumsi-asumsi ilmu atau yang berasal dari keasyikan dengan ilmu; tetapi yang bukan sendirinya merupakan hasil-hasil penyelidikan dengan metode-metode yamg ilmu memakainya.
k.      D.W Theobald
Ilmu dalam garis besarnya bersangkutan dengan apa yang dapat dianggap sebagai fakta tentang dunia yang kita diami. Filsafat ilmu di pihak lain dalam garis besarnya pula bersangkutan dengan sifat dasar fakta ilmiah atau dinyatakannya secara lain, bersangkutan dengan fakta-fakta mengenai fakta-fakta tentang dunia.
l.        Stephen R. Toulmin
Filsafat ilmu mencoba pertama-tama menjelaskan unsur-unsur yang terlibat dalam proses penyelidikan ilmiah-prosedur-prosedur pengamatan, pola-pola perbincangan, metode-metode penggantian dan perhitungan, praanggapan-praanggapan metafisis, dan seterusnya dan selanjutnya menilai landasan-landasan bagi kesahannya dari sudut-sudut tinjauan logika formal, metodologi praktis, dan metafisika.
Menurut pemahaman penulis filsafat ilmu adalah segenap pemikiran reflektif terhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut landasan ilmu maupun hubungan ilmu dengan segala segi dari kehidupan manusia. Landasan (foundation) dari ilmu itu mencakup:
Ø  Konsep-konsep pangkal
Ø  Anggapan-anggapan dasar
Ø  Asas-asas permulaan
Ø  Struktur-struktur teoritis
Ø  Ukuran-ukuran kebenaran ilmiah
Pembagian menurut jenis memakai isi substantif dari pengetahuan ilmiah sebagai dasarnya, sedangkan pembagian menurut ragam ilmu mengacu pada salah satu sifat atributifnya yang dipilih sebagai ukuran. Biasanya dalam pembagian ilmu menurut jenis orang dapat sertamerta mengetahui secara garis besar sasaran apa saja yang termasuk dalam masing-masing rumpun atau cabang ilmu yang bersangkutan. Pembagian ilmu menurut ragamnya hanya menunjukkan suatu ciri tertentu dari segugusan pengetahuan ilmiah.
Dengan mempelajari filsafat ilmu, proses pendidikan, pengajaran, dan penelitian dalam suatu cabang ilmu dapat menjadi lebih mantap dan tidak kehilangan arah.






















BAB IV
LINGKUPAN FILSAFAT ILMU

Lingkupan filsafat ilmu sebagaimana telah dibahas oleh para filsuf dewasa ini dapat dikemukakan secara ringkas dibawah ini.

a.      Peter Angeles
Filsafat ilmu mempunyai empat bidang konsentrasi yang utama:
1.      Telaah mengenai berbagai konsep, praanggapan, dan metode ilmu, berikut analisis, perluasan, dan penyusunannya untuk memperoleh pengetahuan yang lebih ajeg dan cermat.
2.      Telaah dan pembenaran mengenai proses penalaran dalam ilmu berikut struktur perlambangnya.
3.      Telaah mengenai saling kaitan diantara berbagai ilmu.
4.      Telaah mengenai akibat-akibat pengetahuan ilmiah bagi hal-hal yang berkaitan dengan pencerapan dan pemahaman manusia terhadap realitas, hubungan logika dan matematika dengan realitas, entitas teoritis, sumber dan keabsahan pengetahua, serta sifat dasar kemanusiaan.
b.      A. Cornelius Benjamin
Membagi pokok soal filsafat ilmu dalam tiga bidang:
1.      Telaah mengenai metode ilmu, lambing ilmiah, dan struktur logis dari system perlambang ilmiah. Telaah ini banyak menyangkut logika dan teori pengetahuan, dan teori umum tentang tanda.
2.      Penjelasan mengenai konsep dasar, praanggapan, dan pangkal pendirian ilmu, berikut landasan-landasan empiris, rasional atau pragmatis yang menjadi tempat tumpuannya.
3.      Aneka telaah mengenai saling kait diantara berbagai ilmu dan implikasinya bagi suatu teori alam semesta seperti misalnya idealism, materialism, monism, atau pluralisme.
c.       Arthur Danto
Lingkupan filsafat ilmu cukup luas mencakup pada kutub yang satu persoalan-persoalan konsep yang demikian erat bertalian dengan ilmu itu sendiri sehingga pemecahannya dapat seketika dipandang sebagai suatu sumbangan kepada ilmu daripada kepada filsafat, dan pada kutub yang lain persoalan-persoalan begitu umum dengan suatu pertalian filsafati sehingga pemecahannya akan sebanyak merupakan suatu sumbangan kepada metafisika atau epistemology seperti kepada  filsafat ilmu yang sesungguhnya. Begitu pula, rentangan masalah-masalah yang diselidiki oleh filsuf-filsuf ilmu dapat demikian sempit sehingga menyangkut keterangan tentang suatu konsep tunggal yang dianggap penting dalam suatu cabang ilmu tunggal, dan begitu umum sehingga bersangkutan dengan ciri-ciri struktural yang tetap bagi semua cabang ilmu yang diperlakukan sebagai suatu himpunan.
d.      Edward Madden
Filsuf ini berpendapat bahwa apa pun lingkungan filsafat umum, tiga bidang tertentu merupakan bahan perbincangannya yaitu:
v  Probabilitas
v  Induksi
v  Hipotesis
e.       Ernest Nagel
Filsafat ilmu mencakup tiga bidang luas:
1.      Pola logis yang ditunjukkan oleh penjelasan dalam ilmu
2.      Pembentukan konsep ilmu
3.      Pembuktian keabsahan kesimpulan ilmu
f.       P. H. Nidditch
Isinya dapat digambarkan dengan mendaftar serangkaian pembagian dwi bidang yang saling melengkapi:
1.      Logika ilmu yang berlawanan dengan epistemologi ilmu.
2.      Filsafat ilmu-ilmu kealaman yang berlawanan dengan filsafat ilmu-ilmu kemanusiaan.
3.      Filsafat ilmu yang berlawanan dengan telaah masalah-masalah filsafati dari sesuatu ilmu khusus.
4.      Filsafat ilmu yang berlawanan dengan sejarah ilmu.
Selain itu, telaah mengenai hubungan ilmu dengan agama juga termasuk dalam ruang lingkup filsafat ilmu.
g.      Israel Scheffler
Filsuf ini berpendapat bahwa filsafat ilmu mencari pengetahuan umum tentang ilmu atau tentang dunia sebagaimana ditunjukkan oleh ilmu. Lingkupannya mencakup tiga bidang ini:
1.      The role science in society (peranan ilmu dalam masyarakat)
Bidang ini menelaah hubungan-hubungan antara faktor-faktor kemasyarakat dan ide-ide ilmiah.
2.      The world pictured by science (dunia sebagaimana digambarkan oleh ilmu)
Bidang ini berusaha melukiskan asal mula dan struktur alam semesta menurut teori-teori yang terbaik dan penemuan-penemuan dalam kosmologi.
3.      The foundations of science (landasan-landasan ilmu)
Bidang ini menyelidiki metode umum, bentuk logis, cara penyimpulan, dan konsep dasar dari ilmu-ilmu.
h.      J. J. C. Smart
Filsuf ini menganggap filsafat ilmu mempunyai dua komponen utama:
1.      Bahasan analitis dan metodologis tentang ilmu, dan
2.      Penggunaan ilmu untuk membantu pemecahan problem-problem filsafati.
i.        Marx Wartofsky
Menurut filsuf ini rentangan luas dari soal-soal interdisipliner dalam filsafat ilmu meliputi:
1.      Perenungan mengenai konsep dasar, struktur formal, dan metodologi ilmu.
2.      Persoalan-persoalan ontology dan epistemology yang khas bersifat filsafati dengan pembahasan yang memadukan peralatan analitis dari logika modern dan model konseptual dari penyelidikan ilmiah.

Lingkupan filsafati ilmu yang demikian luas dan mendalam serta beraneka ragam itu perlu kiranya dipilah-pilah dan dikelompokkan  sehingga terwujud suatu gambaran yang lebih teratur. Hal ini dapat tercapai dengan membagi dan membedakan filsafat ilmu dalam jenis, ragam, atau golongan yang tepat.
Berdasarkan perkembangan filsafat ilmu sampai dewasa ini, filsuf pengamat sejarah John Loose menyimpulkan bahwa filsafat ilmu dapat digolongkan menjadi empat konsepsi:
1.      Filsafat ilmu yang berusaha menyusun pandangan-pandangan dunia yang sesuai atau berdasarkan teori-teori ilmiah yang penting.
2.      Filsafat ilmu yang berusaha memaparkan praanggapan dan kecenderungan para ilmuwan (misalnya praanggapan bahwa alam semesta mempunyai keteraturan).
3.      Filsafat ilmu sebagai suatu cabang pengetahuan yang menganalisis dan menerangkan konsep dan teori dari ilmu.
4.      Filsafat ilmu sebagai pengetahuan kritis derajat dua yang menelaah ilmu sabagai sasarannya.
Selain pembagian filsafat menurut John Loose dalam empat konsepsi tersebut diatas, beberapa filsuf mempunyai konsepsi dikotomi yang membedakan filsafat ilmu dalam dua bagian. Dwi pembagian yang paling umum dikemukakan oleh antara lain Arthur Pap. Menurut filsuf ini untuk menghindarkan kekacauan filsafat ilmu perlu dibedakan dalam:
1.      Philosophy of science-in-general (filsafat ilmu-seumumnya).
Filsafat ilmu ini menelaah konsep-konsep dan metode-metode yang terdapat dalam semua ilmu, misalnya pengertian penjelasan, generalisasi induktif, dan kebenaran.
2.      Filsafat ilmu khusus, seperti misalnya filsafat fisika atau filsafat psikologi.


BAB V
PROBLEM-PROBLEM
DALAM FILSAFAT ILMU

Konsep, asas, dan pemikiran yang fundamental lazimnya menjadi beban kerja filsafat. Filsafat sebagai rangkaian aktivitas dari budi manusia pada dasarnya adalah pemikiran reflektif. Filsafat sesuatu ilmu khusus merupakan salah satu cabagng dalam ruang lingkup filsafat ilmu-seumumnya. Dengan demikian pembahasan mengenai lingkupan filsafat sesuatu ilmu khusus tidak dapat terlepas dari kaitan dengan pertama-tama persoalan-persoalan dalam filsafat ilmu dan kedua problem-problem filsafat pada umumnya.
Banyak sekali pendapat para filsuf mengenai kelompok atau perincian problem apa saja yang diperbincangkan dalam filsafat ilmu. Untuk mendapat gambaran yang lebih jelas perlulah kiranya dikutipkan pendapat-pendapat berikut:
1.      A. Cornelius Benjamin
Benjamin  memerinci aneka ragam problem itu dalam tiga bagian: pertama  persoalan yang mengenai hubungan-hubungan teoritis antara ilmu yang satu dengan yang lain dan antara ilmu-ilmu dengan usaha-usaha manusia yang lain untuk memahami, menilai, dan mengendalikan dunia; kedua persoalan yang bersangkut paut dengan implikasi-implikasi teoritis dari kebenaran-kebenaran tertentu dalam ilmu sejauh ini mengubah pertimbangan-pertimbangan kita dalam bidang-bidang lain dari pengalaman kita; ketiga persoalan yang bertalian dengan efek-efek praktis, yakni efek-efek dari penemuan-penemuan ilmiah terhadap misalnya bentuk pemerintahan, cara hidup, kesehatan, dan rasa senang.
2.      Michael Berry
Ada dua problem yaitu:
a.       Bagaimanakah kuantitas dan rumusan dalam teori-teori ilmiah bertalian dengan peristiwa-peristiwa dalam dunia alamiah diluar pikiran kita?
b.      Bagaimanakah dapat dikatakan bahwa teori atau dalil ilmiah adalah ‘benar’ berdasarkan induksi dari sejumlah percobaan yang terbatas?

3.      B. Van Fraassen dan H. Margenau
Menurut kedua ahli ini problem-problem utama dalam filsafat ilmu setelah tahun-tahun enam puluhan adalah:
a.       Metodologi
Hal-hal yang banyak diperbincangkan adalah mengenai sifat dasar dari penjelasan ilmiah, logika penemuan, teori probabilitas, dan teori pengukuran.
b.      Landasan ilmu-ilmu
Ilmu-ilmu empiris hendaknya melakukan penelitian-penelitian mengenai landasannya dan mencapai sukses seperti halnya landasan matematik.
c.       Ontologi
Persoalan utama yang diperbincangkan ialah menyangkut konsep-konsep substansi, proses, waktu, ruang, kausalitas, hubungan budi dan materi, serta status dari entitas-entitas teoritis.
4.      Victor Lenzen
Filsuf ini mengajukan dua problem:
a.       Struktur ilmu, yaitu metode dan bentuk pengetahuan ilmiah;
b.      Pentingnya ilmu bagi praktek dan pengetahuan tentang realitas
5.      D. W. Theobald
Menurut filsuf ini, dalam filsafat ilmu terdapat dua kategori problem yaitu:
a.       Problem-problem metodologis yang menyangkut struktur pernyataan ilmiah dan hubungan-hubungan diantara mereka.
b.      Problem-problem tentang ilmu yang menyelidiki arti dan implikasi dari konsep-konsep yang dipakai para ilmuwan.
6.      W. H. Walsh
Filsuf sejarah ini menyatakan bahwa filsafat ilmu mencakup sekelompok problem yang timbul dari metode dan praanggapan dari ilmu serta sifat dasar dan persyaratan dari pengetahuan ilmiah.
7.      Philip Wiener
Menurut beliau para filsuf dewasa ini membahas problem-problem yang menyangkut:
a.       Struktur logis atau ciri-ciri metodologis umu dari ilmu-ilmu.
b.      Saling hubungan di antara ilmu-ilmu.
c.       Hubungan ilmu-ilmu yang sedang tumbuh dengan tahap-tahap lainnya dari peradaban, yaitu kesusilaan, politik, seni dan agama.
Problem-problem filsafat seumumnya bilaman digolongkan ternyata berkisar pada enam hal pokok, yaitu pengetahuan, keberadaan, metode, penyimpulan, moralitas, dan keindahan. Berdasarkan enam sasaran itu, bidang filsafat dapat secara sistematis dibagi dalam enam cabang pokok yaitu epistemology, metafisika, metodologi, logika, etika, dan estetika.
Oleh karena filsafat ilmu merupakan suatu bagian dari filsafat-seumumnya, problem-problem dalam filsafat ilmu secara sistematis juga dapat digolong-golongkan menjadi enam kelompok sesuai dengan cabang-cabang pokok filsafat itu. Dengan demikian, seluruh problem dalam filsafat ilmu dapat ditertibkan menjadi:
1.      Problem-problem epistemologis tentang ilmu.
2.      Problem-problem metafisis tentang ilmu.
3.      Problem-problem metodologis tentang ilmu.
4.      Problem-problem logis tentang ilmu.
5.      Problem-problem etis tentang ilmu.
6.      Problem-problem estetis tentang ilmu.
Problem-problem epistemologis, metafisis, dan logis yang bertalian dengan ilmu-ilmu mulai memperoleh perhatian para filsuf dan ilmuwan pada awal abad XIX.
Epistemology adalah teori pengetahuan yang membahas berbagai segi pengetahuan seperti kemungkinan, asal mula, sifat alami, batas-batas, asumsi dan landasan, validitas dan reliabitas sampai soal kebenaran.
Metafisika pada belakangan ini dipandang sebagai teori mengenai apa yang ada. Segi filsafat ilmu ini mempersoalkan misalnya eksistensi dari entitas-entitas dalam sesuatu ilmu khusus atau status dari kebenaran ilmu.
Metodologi ilmu merupakan penelaahan terhadap metode yang khusus dipergunakan dalam sesuatu ilmu. Kokohnya metode menentukan validitas dan reliabilitas dari hasil ilmu.


BAB VI
PENGERTIAN ILMU

Istilah ilmu atau science merupakan suatu perkataan yang cukup bermakna ganda, yaitu mengandung lebih daripada satu arti. Menurut cakupannya pertama-tama ilmu merupakan sebuah istilah umum untuk menyebut segenap pengetahuan ilmiah yang dipandang sebagai suatu kebulatan. Jadi, dalam arti yang pertama ini ilmu mengacu pada ilmu seumumnya (science-in-general). Arti yang kedua dari ilmu menunjuk pada masing-masing bidang pengetahuan ilmiah yang mempelajari sesuatu pokok soal tertentu. Dalam arti ini ilmu berarti sesuatu cabang ilmu khusus.
Dari segi maknanya, pengertian ilmu sepanjang yang terbaca dalam pustaka menunjuk pada sekurang-kurangnya tiga hal, yakni pengetahuan, aktivitas, dan metode. Dalam hal yang pertama dan ini yang terumum, ilmu senantiasa berarti pengetahuan. Tetapi pengetahuan sesungguhnya hanyalah hasil atau produk dari sesuatu kegiatan yang dilakukan pleh manusia. Demikianlah makna ganda dari pengertian ilmu. Tetapi, pengertian ilmu sebagai pengetahuan, aktivitas atau metode itu bila ditinjau lebih mendalam sesungguhnya tidak saling bertentangan. Ilmu harus diusahakan dengan aktivitas manusia, aktivitas itu harus dilaksanakan dengan metode tertentu, dan akhirnya aktivitas metodis itu mendatangkan pengetahuan yang sistematis. Seorang filsuf Belgia Jean Ladriere dalam 1975 menyatakan demikian : ilmu dapat dipandang sebagai keseluruhan pengetahuan kita dewasa ini, atau sebagai suatu aktivitas penelitian, atau sebagai suatu metode untuk memperoleh pengetahuan.


BAB VII
ILMU SEBAGAI AKTIVITAS PENELITIAN

Dari pertumbuhan ilmu sejak zaman Yunani Kuno sampai abad modern ini tampak nyata bahwa ilmu merupakan aktivitas manusia, suatu kegiatan melakukan sesuatu yang dilaksanakan orang atau lebih tepat suatu rangkaian kegiatan aktivitas yang membentuk suatu proses.
Ilmu secara nyata dan khas adalah suatu aktivitas manusiawi, yakni perbuatan melakukan sesuatu yang dilakukan oleh manusia ilmu tidak hanya satu aktivitas tunggal saja, melainkan suatu rangkaian aktivitas sehingga merupakan sebuah proses. Rangkaian aktivitas itu bersifat rasional, kognitif, dan teleogis. Ilmu menampakkan diri sebagai kegiatan penalaran logis dari pengamatan empiris. Berpangkal pada hasrat kognitif dan kebutuhan intelektualnya, manusia melakukan rangkaian pemikiran dan kegiatan rasional yang selanjutnya melahirkan ilmu. Yang dimaksud dengan pemikiran rasional adalah pemikiran yang mematuhi kaidah logika, baik logika tradisional maupun logika modern.
Jadi, pada dasarnya ilmu adalah sebuah proses yang bersifat kognitif, bertalian dengan proses mengetahui dan pengetahuan. Proses kognitif (cognition) adalah suatu rangkaian aktivitas seperti pengenalan, pencerapan, pengkonsepsian, dan penalaran (antara lain) yang dengannya manusia dapat mengetahui dan memperoleh pengetahuan tentang suatu hal.
Ilmu selain merupakan sebuah proses yang bersifat rasional dan kognitif, juga bercorak teleologis, yakni mengarah pada tujuan tertentu karena para ilmuwan dalam melakukan aktivitas ilmiah mempunyai tujuan-tujuan yang ingin dicapai. Tujuan-tujuan yang ingin dicapai atau dilaksanakan itu dapat secara teratur diperinci dalam urutan berikut:
v  Pengetahuan (knowledge)
v  Kebenaran (truth)
v  Pemahaman (understanding, comprehension, insight)
v  Penjelasan (explanation)
v  Peramalan (prediction)
v  Pengendalian (control)
v  Penerapan (application, invention, production)
Dengan ketiga sifat yang rasional, kognitif, dan bertujuan ganda itu sesuatu aktivitas termasuk dalam pengertian ilmu. Suatu hal yang kiranya perlu dijelaskan lebih lanjut ialah wujud aktivitas yang bagaimana tergolong sebagai science. Dari akar kata Latin scire yang dapat berarti to learn (belajar) tampaknya tidak menyimpang dari kenyataan apabila science merupakan rangkaian aktivitas mempelajari sesuatu. Aktivitas mempelajari sesuatu berarti mempergunakan pikiran secara aktif. Penelaahan (study) bukanlah menunggu secara pasif sampai sesuatu pengetahuan dating sendiri, melainkan secara giat dengan pikiran mengejar, mencari, dan menggali pengetahuan mengenai sesuatu hal yang menarik perhatian. Aktivitas yang demikian itu kini dalam istilah dunia keilmuan disebut penelitian (research).
Sebagai rangkuman, pengertian ilmu sebagai rangakaian aktivitas pemikiran manusia atau proses penelitian dapat diringkas menjadi bagan yang berikut:
Ilmu Sebagai Aktivitas :
1.      Rasional    à -    Proses pemikiran yang berpegang pada kaidah-kaidah logika
2.      Kognitif    à -    Proses mengetahui dan memperoleh pengetahuan
3.      Teleologis à-     Mencapai kebenaran
-          Memperoleh pemahaman
-          Memberikan penjelasan
-          Melakukan penerapan dengan melalui peramalan atau pengendalian
Rangkaian aktivitas pemikiran yang rasional dan kognitif untuk menghasilkan pengetahuan, mencapai kebenaran, memperoleh pemahaman, memberikan penjelasan, dan melakukan peramalan, pengendalian, atau penerapan itu dilaksanakan oleh seseorang yang digolongkan sebagai ilmuwan. Sebuah definisi lain dari Dean Schooler, Jr. merumuskan ilmuwan sebagai orang-orang yang terlihat mengembangkan pengetahuan dengan memakai metode-metode ilmiah. Dengan demikian, pengertian ilmu dapat beralih dari aktivitas menjadi metodenya. Jadi, ilmu selain berarti aktivitas penelitian juga berarti metode ilmiah.


BAB VIII
ILMU SEBAGAI METODE ILMIAH

Penelitian sebagai suatu rangkaian aktivitas mengandung prosedur tertentu, yakni serangkaian cara dan langkah tertib yang mewujudkan pola tetap. Rangkaian cara dan langkah ini dalam dunia keilmuan disebut metode. Untuk menegaskan bidang keilmuan itu seringkali dipakai istilah ‘metode ilmiah’. Metode ilmiah merupakan prosedur yang mencakup berbagai tindakan pikiran, pola kerja, tata langkah, dan cara teknis untuk memperoleh pengetahuan baru atau memperkembangkan pengetahuan yang ada.
Prosedur yang merupakan metode ilmiah sesungguhnya tidak hanya mencakup pengamatan dan percobaan. Macam prosedur yang dapat dianggap sebagai pola-pola metode ilmiah, yakni:
-          Analisis
-          Pemerian
-          Penggolongan
-          Pengukuran
-          Perbandingan
-          Survai
Oleh karena ilmu merupakan suatu aktivitas kognitif yang harus mematuhi berbagai kaidah pemikiran yang logis, maka metode ilmiah juga berkaitan sangat erat dengan logika.
Konsep-konsep dalam metode ilmiah pada tata langkah di atas misalnya model dan hipotesis. Model adalah sesuatu citra atau gambaran abstrak yang diperlakukan terhadap sekelompok gejala. Model juga dapat diambil dari benda fisik yang ada.
Hipotesis adalah sesuatu keterangan bersifat sementara atau untuk keperluan pengujian yang diduga mungkin benar dan dipergunakan sebagai pangkal untuk penyelidikan lebih lanjut sampai diperoleh kepastian dengan pembuktian. Suatu hipotesis bukanlah syarat mutlak yang harus dibuat dalam setiap penelitian. Sesuatu penelaahan ilmiah yang sudah jelas arahnya kadang-kadang tidak memerlukan hipotesis. Hal yang sama juga berlaku untuk model pada sesuatu penelitian ilmiah.
Dalam kepustakaan metodologi ilmu atau penelitian ilmiah, pengertian metode seringkali dipersamakan atau dicampuradukkan dengan pendekatan maupun teknik. Metode, pendekatan, dan teknik merupakan tiga hal yang berbeda walaupun bertalian erat satu sama lain.
Pendekatan dalam menelaah sesuatu hal dapat dilakukan berdasarkan atau dengan memakai sudut tinjauan dari berbagai cabang ilmu seperti misalnya ilmu ekonomi, ilmu politik, psikologi, atau sosiologi. Pengertian metode tidak pula sama dengan teknik. Metode ilmiah adalah berbagai prosedur yang mewujudkan pola-pola dan tata langkah dalam pelaksanaan sesuatu penelitian ilmiah. Pola dan tata langkah dalam prosedural itu dilaksanakan dengan cara-cara operasional dan teknis yang lebih terinci. Cara-cara itulah yang mewujudkan teknik. Jadi, teknik adalah sesuatu cara operasional tehnis yang seringkali bercorak rutin, mekanis, atau spesialistis untuk memperoleh dan menangani data dalam penelitian.
Berikut beberapa unsur metode ilmiah yang telah disebutkan diatas:
I.    Pola prosedural: pengamatan, percobaan, pengukuran, survai, deduksi, induksi, analisis, lainnya.
II. Tata langkah: penentuan masalah, perumusan hipotesis (bila perlu), pengumpulan data, penurunan kesimpulan, pengujian hasil.
III. Berbagai teknik: daftar pertanyaan, wawancara, perhitungan, pemanasan, lainnya.
IV. Aneka alat: timbangan, meteran, perapian, computer, lainnya.


BAB IX
ILMU SEBAGAI PENGETAHUAN
SISTEMATIS

Menurut pemaparan Bab VII-VIII, pengertian ilmu yang pertama ialah proses yang merupakan penelitian ilmiah dan pengertian yang kedua ialah prosedur yang mewujudkan metode ilmiah. Dari proses dan prosedur itu pada akhirnya keluar produk berupa pengetahuan ilmiah (scientific knowledge). Ini merupakan pengertian ilmu ketiga. Pengertian ilmu sebagai sekumpulan pengetahuan telah pula dianut begitu luas dalam berbagai kamus, ensiklopedi, dan kepustakaan yang membahas ilmu.
Dari pengertian diatas kini menjadi jelas bahwa ilmu merupakan pengetahuan. Secara sederhana pengetahuan pada dasarnya adalah keseluruhan keterangan dan ide yang terkandung dalam pernyataan-pernyataan yang dibuat mengenai sesuatu gejala/peristiwa baik yang bersifat alamiah, sosial maupun keorangan. Jadi, pengetahuan menunjuk pada sesuatu yang merupakan isi substantive yang terkandung dalam ilmu. Isi itu dalam istilah keilmuan disebut fakta.
Pengetahuan dapat dibedakan dan digolongkan dalam berbagai jenis menurut sesuatu ukuran tertentu. Bertrand Russel membedakan pengetahuan manusia dalam dua jenis, yaitu pengetahuan mengenai fakta-fakta (knowledge of facts) dan pengetahuan mengenai hubungan-hubungan umum diantara fakta-fakta (knowledge of the general connections between facts). Selain itu menurut filsuf Inggris terkemuka ini, pengetahuan juga dapat digolongkan menjadi dua macam lainnya, yakni pengetahuan empiris murni (pure empirical knowledge) yang menunjukkan adanya benda-benda berikut ciri-cirinya yang dikenal manusia dan pengetahuan a priori murni (pure a priori knowledge) yang menunjukkan hubungan-hubungan diantara hal-hal umum dan memungkinkan orang membuat penyimpulan-penyimpulan dari fakta-fakta yang terdapat dalam pengetahuan empiris.
Seorang ahli epistemology (teori pengetahuan dalam filsafat) Ledger Wood membedakan pula pengetahuan dalam dua jenis pokok yang masing-masing mempunyai rincian lebih lanjut. Secara ringkas dan dalam garis besar pengetahuan dibedakannya demikian:
I.    Non-inferential Apprehension
Pengetahuan nonpenyimpulan yang merupakan pengenalan langsung terhadap benda, orang, atau sifat tertentu. Ini mempunyai dua bentuk:
a.       Perception (pencerapan) : pengenalan terhadap objek-objek diluar diri seseorang.
b.      Introspection (pengenalan diri) : pengenalan seseorang terhadap dirinya sendiri dengan segenap kemampuannya (pikiran, kehendak, dan perasaan).

II.    Inferential Knowledge
Pengetahuan penyimpulan yang merupakan pengenalan terhadap objek-objek yang tidak hadir dihadapan seseorang. Pengetahuan ini dapat dibedakan menjadi tiga macam:
a.       Knowledge of other selves (pengetahuan mengenai ciri-ciri pihak lain).
b.      Historical knowledge (pengetahuan historis) yang menyangkut masa lampau.
c.       Scientific knowledge (pengetahuan ilmiah) yang melibatkan penyimpulan dan penyusunan dengan data pengamatan.

Walaupun pengertian mengenai pengetahuan menunjuk pada fakta-fakta sebagai intinya, perlulah dipahami bahwa ilmu bukanlah fakta-fakta. Pernyataan yang lebih tepat ialah bahwa ilmu senantiasa berdasakan fakta-fakta. Fakta-fakta itu diamati dalam aktivitas ilmiah. Dari pengamatan itu selanjutnya fakta-fakta dihimpun dan dicatat sebagai data.
Pengetahuan pada dasarnya menunjuk pada sesuatu yang diketahui. Jadi, ada sesuatu pokoksoal yang mengenainya orang mempunyai pengetahuan. Dengan demikian, jelaslah kini bahwa setiap ilmu harus mempunyai sesuatu pokoksoal apapun. Seorang ahli logika modern juga menyatakan bahwa suatu ilmu adalah suatu kumpulan yang sistematis atau teratur dari pengetahuan yang bertalian dengan suatu pokoksoal khusus, dan pokoksoal dari setiap ilmu ialah suatu bagian tertentu dari bahan pengalaman manusia.
Demikianlah setiap ilmu menurut salah satu maknanya adalah pengetahuan. Pengetahuan itu mengenai sesuatu pokoksoal dan berdasarkan suatu titikpusat minat. Pokoksoal dan titikpusat minat itu membentuk suatu sasaran yang sesuai dari ilmu yang bersangkutan.
Konsep sebagai sasaran dari ilmu tidak boleh dikacaukan dengan pokok soal dari pengetahuan. Pokoksoal saja belum dapat mengembangkan sesuatu ilmu ke taraf yang tinggi. Setiap ilmu yang telah cukup berkembang harus memiliki satu atau beberapa konsep kunci dan konsep-konsep tambahan yang bertalian. Konsep-konsep ilmiah sangat diperlukan agar sesuatu ilmu dapat menyusun berbagai asas, teori sampai dalil. Sesuatu konsep ilmiah merupakan semacam sarana untuk ilmuwan melakukan pemikiran dalam mengembangkan pengetahuan ilmiah.
Penelaahan terhadap gejala-gejala alam dan kehidupan maupun gejala-gejala mental dan kemasyarakatan kini semuanya secara pasti menjadi ilmu-ilmu fisis, biologi, psikologi, dan ilmu-ilmu sosial yang berdiri sendiri. Ciri umum dari ilmu-ilmu tersebut yang membuatnya berbeda dari filsafat ialah ciri empiris. Kalau filsafat masih tetap merupakan pemikiran reflektif yang coraknya sangat umum, kebalikannya ilmu-ilmu fisis, biologi, psikologi, dan ilmu-ilmu social telah merupakan rangkaian aktivitas intelektual yang sifatnya empiris. Sifat inilah yang lalu merupakan ciri umum dari ilmu.
Jadi, ciri empiris dari ilmu mengandung pengertian bahwa pengetahuan yang diperoleh itu berdasarkan pengamatan (observation) atau percobaan (experiment). Kalau ilmu berbeda dari filsafat berdasarkan ciri empiris itu, maka ilmu berbeda dari pengetahuan biasa karena ciri sistematisnya. Ciri sistematis berarti bahwa berbagai keterangan dan data yang tersusun sebagai kumpulan pengetahuan itu mempunyai hubungan-hubungan ketergantungan dan teratur.
Selain ciri-ciri empiris dan sistematis di muka, masih ada 3 ciri-ciri pokok lainnya dari ilmu, yaitu objektif, analitis, dan verifikatif (dapat diperiksa kebenarannya). Ciri objektif dari ilmu berarti bahwa pengetahuan itu bebas dari prasangka perseorangan (personal bias) dan kesukaan pribadi. Ciri analitis berarti bahwa pengetahuan ilmiah itu berusaha membeda-bedakan pokoksoalnya ke dalam bagian-bagian yang terperinci untuk memahami berbagai sifat, hubungan, dan peranan dari bagian-bagian itu. Ciri pokok yang terakhir dari ilmu itu sekaligus mengandung pengertian bahwa ilmu senantiasa mengarah pada tercapainya kebenaran. Ilmu dikembangkan oleh manusia untuk menemukan suatu nilai luhur dalam kehidupan manusia yang disebut kebenaran ilmiah.
Sebagai rangkuman dari segenap uraian tentang pengertian dan ciri-ciri ilmu dimuka dapatlah dikemukakan kesimpulan-kesimpulan yang berikut:
a)      Dilihat dari segi hasil kegiatan, ilmu merupakan sekelompok pengetahuan mengenai sesuatu pokoksoal dengan titik pusat minat pada segi atau permasalahan tertentu sehingga merupakan berbagai konsep.
b)      Pengetahuan ilmiah itu mempunyai 5 ciri pokok, yaitu ciri empiris, sistematis, objektif, analitis, dan verifikatif.
c)      Definisi ilmu rumusan kami perlu ditegaskan lagi berbunyi demikian:
Ilmu adalah rangkaian aktivitas manusia yang rasional dan kognitif dengan berbagai metode berupa aneka prosedur dan tata langkah sehingga menghasilkan kumpulan pengetahuan yang sistematis mengenai gejala-gejala kealaman, kemasyarakatan, atau keorangan untuk tujuan mencapai kebenaran, memperoleh pemahaman, memberikan penjelasan, ataupun melakukan penerapan.


BAB X
DIMENSI ILMU



 Pengertian ilmu yang sesungguhnya tetaplah sebagai penelitian, metode, dan pengetahuan. Apabila ilmu dibahas dari sudut salah satu dimensinya, maka ini merupakan suatu analisis dari sudut tinjauan khusus yang bercorak eksternal. Untuk keperluan penelaahan terhadap ilmu, sudut tinjauan dari arah luar itu lalu merupakan suatu hampiran studi tertentu atau suatu perspektif dalam analisis. Hampiran atau perspektif ini dapat berasal pertama-tama dari berbagai cabang ilmu khusus yang dapat mengambil konsep ilmu sebagai sasaran penelaahannya. Dari kepustakaan yang membahas ilmu dari berbagai hampiran ilmu-ilmu tertentu, tampaklah sejumlah dimensi ilmu yang sejalan dengan ilmu-ilmu yang bersangkutan, yaitu:
a.       Ilmu ekonomi: dimensi ekonomik dari ilmu
Hampiran ilmu ekonomi akan melahirkan dimensi ekonomik yang membahas ilmu sebagai suatu kekuatan produktif yang langsung sebagaimana dianut oleh Negara-negara sosialis atau sebagai a major in the maintenance and development of production (suatu faktor utama dalam mempertahankan dan mengembangkan produksi) seperti dikemukakan oleh Bernal.
b.      Linguistik: dimensi linguistik dari ilmu
Dengan tinjauan linguistik orang dapat memandang ilmu sebagai suatu bahasa buatan.
c.       Matematik: dimensi matematis dari ilmu
Dimensi ini menekankan segi kuantitatif dan proses kuantifikasi dalam ilmu. Kelanjutan hampiran matematik yang berlebihan ialah pendapat bahwa apa yang disebut ilmu hanyalah pengetahuan yang dapat dinyatakan dengan rumus-rumus matematik.
d.      Ilmu politik: dimensi politik dari ilmu
Dengan hampiran ilmu politik orang dapat membahas ilmu dari sudut tinjauan pemerintahan atau sebagai faktor kekuasaan dalam Negara.
e.       Psikologi: dimensi psikologis dari ilmu

4 komentar:

  1. maaf bu ko tulisan ini tidak ada referensinya ya..?
    apa benar ini tulisan ibu..?

    BalasHapus
  2. thank ya mbak makalah nya bermanfaat in sya allah





    BalasHapus
  3. (y),,,terimahkasih,,,karena ini sangat membantu buangat?

    BalasHapus